Entri Populer

Sabtu, 29 Januari 2011

Laporan anallisis urine


Praktikum ( Analisis Urine )
oleh ; Armansyah farid

I. Tujuan Percobaan
2.1 Untuk melakukan tes untuk menunjukkan hasil metabolisme normal di dalam urine.
2.2 Untuk melakukan tes untuk menunjukkan zat-zat abnormal atau pathologi di dalam urine.
2.3 Untuk mendemonstrasikan perilaku buffer urine.

II. Dasar Teori
Cairan ekstra sel menyusun lingkungan internal sel-sel tubuh. Dalam medium ini sel-sel melakukan aktivitas vitalnya. Karena perubahan pada cairan ekstrasel pasti mengakibatkan perubahan cairan dalam sel dan dengan demikian juga perubahan fungsi sel, maka penting untuk fungsi normal sel-sel bahwa susunan cairan ini relatif konstan.
Lingkungan internal terutama diatur oleh dua pasang organ: paru-paru, yang mengatur konsentrasi oksigen dan CO2; dan ginjal, yang mempertahankan susunan optimal kimia cairan tubuh. Ginjal adalah snatu organ yang tidak hanya membuang sampah metabolisme tetapi sebenarnya melakukan fungsi homeostatik yang sangat penting. Ginjal juga memiliki kapasitas metabolik yang besar.

·         Peranan Ginjal dalam Homeostatis
Pengaturan lingkungan internal oieh ginjal adalah suatu gabungan 3 proses:
• fikrasi plasma darah oleh glomerulus;
• absorpsi kembali selektif zat-zat seperti garam, air, gula sederhana dan asam amino oleh
tubulus yang diperlukan untuk mempertahankan lingkungan internal atau untuk
membantu proses-proses metabolik; dan
• sekresi zat-zat oleh tubulus dari darah ke dalam lumen tubulus untuk dieksresikan ke
dalam urin. Proses ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, anion organik, dan
ion hidrogen. Tugasnya untuk memperbaiki komponen buffer darah dan untuk
mengeluarkan zat-zat yang mungkin merugikan.


·         Stuktur nefron
Urin dibentuk oleh penggabungan 3 proses tersebut di atas. Unit anatomi yang melakukan fungsi ini adalah nefron. Tiap-tiap ginjal memiliki sekitar 1 juta nefron.
Darah dihantarkan dari aorta melalui arteri renalis dan cabang-cabang arteria renalis ke arterioli afferen. Tepat distal dari stuktur ini adalah glomerulus, suatu jaringan kapiler yang menyerupai jumbai yang terdiri atas unit penyaringan. Kapiler ini bergabung untuk membentuk arteriole efferen, suatu pembuluh darah dengan dinding ototyang karenanya mampu mengubah diameter lumennya. Arteriole efferen segera membagi lagi menjadi kapiler kedua yang mengelilingi bagian lainnya dari nefron.
Jumbai glomerulus terletak dalam kapsula Bowman, suatu kantung epitel berdinding rangkap yang merupakan bagian dari sistem tubulus paling proksimal. Kapsula Bowman langsung berubah menjadi tubulus kontortus proksimalis dan dari sini menjadi komponen-komponen berikutnya: tubulus rektus proksimalis dan lengkung Henle sendiri, terdiri dari pars descendens, pars decendens yang tipis, dan pars decendens yang tebal. Yang terakhir terletak dalam medulla dan korteks ginjal. Pars ascendens yang tebal dari lengkung Henle berubah menjadi tubulus kontortus distalis, tubulus kolligens kortikal, dan tubulus kolligens medulla dan papila. Tiap-tiap bagian sistem tubular ini mempunyai fungsiyang spesifik.

·         Filtrasi
Langkah pertama pembentukan urin adalah filtrasi plasma darah. Volume darah yang besai, kira-kira 1 liter/menit (atau 25% dari seluruh curah jantung waktu istirahat), mengalir melalui ginjal. Jadi, dalam 4-5 menit volume darah yang sama besarnya dengan volume darah total nielewati sirkulasi ginjal. Ini dirnungkinkan oleh sistem sirkulasi yang sangat luas dalam organ ini. Dengan pernyataan yang sama, ginjal khususnya gampang rusak oleh penyakit vaskuler yang merata.
Pembentukan filtrat glomerulus adalah prose yang terutama diatur oleh jumlah aljabar dari selisih tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik trans kapiler. Kemungkinan terakhir telah memungkinkan pengukuran secara langsung kekuatan-kekuatan hidrostatikyang dipersoalkan. Di bawah pengaturan keadaan hidropenik, tekanan hidrostatik kapiler glomerulus rata-rata 45 mmHg atau kira-kira 40% dari tekanan aorta rata-rata. Tekanan hidrostatik tubulus rata-rata 10 mmHg jadi terdapat tekanan hidrostatik sebesar 35 mmHg yang tampaknya tidak berubah sepanjang seluruh kapiler. Tekanan onkotik dalam kapiler naik dari sekitar 20 mmHg pada permulaan menjadi 35 mml Ig pada ujung glomelurus. Jadi keuntungan tekanan filtrasi ~ 15 mmHg timbul pada permulaan kapiler dan berkurang sewaktu darah mengalir melalui glomelurus.
Pengaturan filtrasi dianggap mempunyai hubungan dengan aliran plasma karena ia mempengaruhi cara meningkatnya tekanan onkotik glomerulus. Selain itu, dipikirkan bahwa modifikasi luas permukaan untuk filtrasi dapat terjadi oleh bertambahnya atau berkurangnya jumlah kapileryang dilalui oleh aliran darah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi filtrasi adalah obstruksi jalan arteri yang menuju ke glomerulus, kenaikan tekanan interstitial seperti yang dapat disebabkan oleh suatu proses peradangan, dan kenaikan resistensi untuk mengalir dalam sistem tubulus seperti oleh obstruksi tubulus kolligens, ureter, atau uretra. Membranglomerulus juga dapat dirusak oleh penyakit sehingga tidak dapat berfungsi sebagai saringan untuk darah. Akhirnya kapiler dapat tersumbat seluruhnya dan karena itu tidak terpakai dalam sirkulasi aktif. Selama berlangsungnya penyakit seperti ini, sel-sel darah dan proteinplasma akan merembes melalui kapiler yang rusak dan akan  diekskresi ke dalam urine.
·         Laju filtrasi glomerulus
Pada orang dewasa normal, 1 liter darah difiltrasi tiap menit oleh kerja sama 2 juta n'efron kedua ginjal, dan 120 ml/menit filtrat glomerulus dibentuk pada kapsul bowman. Laju filtrasi glomerulus pada orang dewasa oleh karena itu adalah sekilar 120 ml/menit. Secara kimia, filtrat glomerulus pada hakekatnya adalah cairan ekstra selyang bebas protein atau filtrat seluruh darah yang bebas protein dan sel.

·         Kerja tubulus
Susunan urine sangat berbeda dari filtrat glomerulus. Juga terdapat perbedaan yang sangat besar antara volume cairan yang dibentuk pada glomerulus tiap menit dan jumlah yang sampai di papila dalam waktu yang sama. Glomeruli berperan hanya sebagai saringan; susunan filtrat glomerulus karena itu ditentukan semata-mata oleh permeabilitas membran kapiler terhadap zat-zat dari darah. Sebagai akibat, filtrat glomerulus mengandung banyak zat yang penting untuk metabolisme normal, seperti air, glukosa, asam amino, dan elektrolit, serta zat-zat yang hams diekskresi dan diulang seperti urea, kreatinin dan asam urat. Lagi pula, dalam berbagai keadaan, lebih banyak atau lebih sedikit jumlah zat-zat esensial ditahan sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan ketetapan dalam likunganinternal. Fungsi ginjal yang sangat selektif ini adalah tugas tubulus. Dengan absorbsi kembali dan sekresi, tubulus mengubah filtrat glomerulus dan dengan demikian menghasilkan urine.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa.
Analisis urin secara fisik meliputi pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin dan pH serta suhu urin itu sendiri. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan proteinm ada banyak sekali metode yang ditawarkan , mulai dari metode uji millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir adalah analisis secara mikroskopik, sampel urin secara langsung diamati dibawah mikroskop sehingga akan diketahui zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin tersebut, misalnya kalsium phospat, serat tanaman, bahkan bakteri.
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea.
Dalam basoeki (2000) disebutkan bahwa pada proses urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin. Analisis urin dapat berupa analisis fisik, analisi kimiawi dan anlisis secara mikroskopik.

Urin yang terlalu keruh menandakan tinhgginya kadar unsur-unsur yang terlarut di dalamnya. Hal ini bisa terjadi karena faktor makanan, karena adanya infeksi yang mengeluarkan bakteri atau karena konsumsi air yang kurang. Bau urin dapat bervariasi karena kandungan asam organik yang mudah menguap. Diantara bau yang berlainan dari normal seperti: bau oleh makanan yang mengandung zat-zat atsiri seperti jengkol, petai, durian, asperse dll. Bau obat-obatan seperti terpentin, menthol dsb, Bau amoniak biasanya terjadi kalau urin dibiarkan tanpa pengawet atau karena reaksi oleh bakteri yang mengubah ureum di dalam kantong kemih.Bau keton sering pada penderita kencing manis, dan bau busuk sering terjadi pada penderita keganasan (tumor) di saluran kemih.


IV. Alat dan Bahan
A.    Alat yang Dipakai
·         Pipet tetes,
·         Tabung reaksi,
·          pHmeter atau pH paper
·         Gelas kimia
·         Pembakar spritus
·         Cawan petri
·          kompor listrik atau penangas air
B.     Bahan
a. Percobaan urea
§  Suspense kedelai
§  Larutan phenol red
§  Larutan alkali encer
b. Percobaan  Ehrlich
§  Urine baru
§  Pereaksi Ehrlich ( larutan paradimethyl-aminobenzaldehyde 2 % dalam HCL pekat.
c. Uji keberadaan albumin dalam urine
§  Urine penderita glomeluronephritis
§  Asama seta (cuka) 0,1 M


d. Percobaan benzidin
§  Urine phatologis
§  Larutan benzidin jenuh dalam asam bibit (4 gr/100ml) H2O2 3 %

e. Uji reaksi reduksi dengan pereaksi benedict
§  Urine penderita diabetes militus
§  Larutan benedict



V. Cara Kerja
a.       Percobaan urea
Tabung 1
5 ml urine + 3 tetes larutan phenol red + 1 ml suspense kedele.

 
                       
Tambahkan alkali encer hingga warna cairan hampir merah jambu.

 




5 ml aquadest + 3 tetes larutan phenol red + 1 ml suspense kedele
Tabung 2

Tambahkan alkali encer hingga warna cairan hampir merah jambu.

 




o   Tambahkan alkali encer hingga warna sama dengan tabung 1.
o   Tabung 1 dan 2 di inkubasi dalam bak air 400C.
b.      Percobaan ehrlich
o   5 ml urine + 10 tetes pereaksi ehrlich
c.       Uji keberadaan albumin
o   Saring bila urine keruh
o   Isi 2 tabung dengan 3 ml urine masing – masing
o   Panaskan yang satu sampai mendidih dan yang satu dipakai untuk perbandingan.
d.      Percobaan benzidin
o   Urine di masak dahulu
o   Tambahkan 1 ml pereaksi benzidin + 1 ml H2O2 + 2 ml urine
e.       Uji reaksi reduksi dengan pereaksi benedict
o   Sebelumnya urine di encerkan
o   3 ml larutan benedict + 3 tetes urine,
o   Panaskan

VI. Hasil Pengematan

·         Percobaan urea
Pada perrcobaan yang kami lakukan, ternyata hasilnya tabung 1 isinya berubah menjadi warna merah. Dan hasil ini positif dan sesuai dengan teori bahwa urease yang ada dalam suspense kedele akan mengubah ureum menjadi ammonium carbonat. Sedangkan tabung 2 tidak akan member reaksi karena tidak terdapat ureum. Karena sampel yang di pakai sebagai indicator adalah aquadest.
·         Percobaan Ehrlich
Pada percobaan erhlich dengan menggunakan pereaksi erhlich sampel urine positif mengandung urobilinogen. Masing – masing tabung member reaksi warna merah ungu, dan merah.
·         Uji keberadaan albumin pada urine pathologis
Pada percobaan ini hasil akhirnya negative karena sampel tidak memberi reaksi apa – apa. Semua tabung tidak terjadi perubahan warna ataupun terbentuknya endapan pada sampel urine  yang diteliti.
·         Percobaan  Benzidin
Setelah semua prosedur telah di lakukan, ternyata hasilnya negative. Semua tabung yang berisi sampel urine yang di teliti, tidak memberikan reaksi apapun selain warna asli urine yang telah bercampur dengan pereaksi benzidin.

·         Uji reaksi reduksi dengan menggunakan pereaksi brnedict
Untuk uji glukosa pada urine ini, hasil yang kami dapatkan adalah positif. Karena semua tabung yang berisi sampel urine setelah dipanaskan, membentuk endapan kuning. Walaupun warna konsentrasi larutannya masih hijau pudar.
VII. Pembahasab
Sampel urine orang normal berwarn aputih kekuningan. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (http://wikipediaindonesia.com). Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini.
Urine atau air seni dihasilkan daalam proses penyaringan darah dan ginjal. Kandungan urine bergantung keadaan kesehatan daan makanan sehari-hari yang dikonsumsi oleh masing-masing individu. Individu normal meempunyai pH antara 5 sampai 7. Banyak faktor yang memperngaruhi pH urine seseorang adalah makanan sehari-hari, tempoh selepas pengutipan sampei, infeksi saluran urinary dan ketidakseimbangan hormonal. Warna urine dalah kuning keemasan yang dianggap berasal dari emas. Ciri-ciri warna air seni yang tidak sehat yaitu:
1. Merah muda, merah atau kecoklatan, hal ini karena terdapat darah dalam air seni yang diakibatkan infeksi, peradangan atau suatu pertumbuhan pada saluran kemih, serta bahan pewarna makanan juga bisa menyebabkan warna air seni lebih pekat dari biasanya.
2. Kuning gelap atau oranye, hal ini disebbakan jika kekurangan air minum dan kekurangan cairan karena diare, muntah atau banyak keringat.
3. Coklat bening dan gelap, hal ini terjadi karena penyakit kuning akibat gangguan pada hati atau empedu (Hepatitis).
4. Hijau atau biru, disebabkan sebagian besar akibat bahan pewarna makanan atau obat yang dikonsumsi, tetapi jika konsumsi terhadap makanan atu obat tersebut dikurangi, maka warna
urine bisa kembali normal.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa.
Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis, yaitu suatu metode analisis zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urin.
Pada proses urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin. Analisis urin dapat berupa analisis fisik, analisi kimiawi dan anlisis secara mikroskopik. Analisis urin secara fisik meliputi pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin dan pH serta suhu urin. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan protein ada banyak sekali metode yang ditawarkan, mulai dari metode uji millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir adalah analisis secara mikroskopik, sampel urin secara langsung diamati dibawah mikroskop sehingga akan diketahui zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin tersebut, misalnya kalsium phospat, serat tanaman, bahkan bakteri.
Dalam praktikum dilakukan berbagai macam uji terhadap urine. Urine yang dipergunakan sebagai bahan dalam praktikum adalah terdiri dari dua sample, yaitu urine mormal dan urine wanita hamil.
Pada percobaan yang pertama dilakukan percobaan urea dengan menggunakan suspense kedele sebagai pereaksi karena mengandung urease yang akan mengubah ureum menjadi ammonium carbonat yang  bersifat basa dan mudah pecah jadi NH3 + CO2. Ammonium ini akan mengubah pH menjadi lebih alkalis dan larutan jadi merah. Karena suspense kedelemengandung asam – asam dan urine juga biasanya bersifat asam, maka untuk melihat perubahan warna phenololeh ammoniak, suasana harus dibuat agak alkalis yaitu dengan menambahkan NaOH bebarapa tetes sampai warna jadi agak merah jambu. Phenol red mempunyai daerah perubahan warna pada pH antara ( 6,8-8,4 ).
 dilakukan uji pH terhadap urine. Uji pH bisa dilakukan dengan menggunakan kertas pH, kertas indicator universal atau dengan fenolftalein. Namun dalam praktikum digunakan kertas pH. Pada uji terhadap sample urine normal, skala kertas pH menunjukkan pH 5-6. Hal ini menunjukkan bahwa urine adalah normal, sesuai dengan teori bahwa urine normal memiliki derajat keasaman 5 – 7.
Percobaan yang kedua adalah menguji ada tidaknya klorida dalam urine. Dalam percobaan atau uji klorida ini, digunakan masing-masing 5 ml sampel urine, masing-masing diasamkan dengan asam nitrat encer kemudian ditambahkan dengan beberapa tetes larutan perak nitrat hingga terlihat terbentuk endapan berwarna putih. Setelah penambahan beberapa reagen tersebut warna urine berubah. Urine yang sebelumnya berwarna kuning bening berubah menjadi kuning keruh dan terdapat endapan kuning pekat. Hasil pengamatan yang menunjukkan adanya endapan tersebut membuktikan bahwa kinerja organ hati dari kedua orang tersebut (kedua orang yang diambil sampel urinnya) kurang normal sehingga proses netralisir yang dilakukan terhadap zat-zat tertentu menjadi tidak berlangsung sempurna. Klorida merupakan ion yang terbentuk sewaktu unsur klor mendapatkan satu electron untuk membentuk suatu anion. Chlorida yang terdapat dalam urine berasal dari makanan yang mengandung garam (NaCl).
Percobaan ketiga adalah menguji adanya sulfat dalam urine. Percobaan atau uji ini dilakukan dengan mengasamkan masing-masing 5 ml sampel urine menggunakan HCl encer dan ditambahkan dengan Barium klorida (BaCl2). Pengamatan menunjukkan bahwa pada urine wanita hamil, urine menjadi keruh dan terdapat sedikit endapan setelah ditambah dengan reagen-reagen tersebut. Endapan putih karena adanya endapan BaSO4 dari belerang etereal yang memiliki senyawa sulfat akan bereaksi dengan BaCl2. Endapan putih BaSO4 yang dimaksud menunjukkan bahwa urine wanita hamil yang dijadikan sampel mengandung sulfat. Sulfat merupakan salah satu bahan yang terlarut dalam urine. Sulfat etereal di dalam urin merupakan ester sulfat organik (R-O-SO3H) yang dibentuk di dalam hati dari fenol endogen dan eksogen, yang mencakup indol, kresol, esterogen, steroid lain, dan obat-obatan. Zat-zat organik tersebut berasal dari metabolisme protein atau pembusukan protein dalam lumen usus. Semuanya terurai pada pemanasan dengan asam. Jumlahnya 5-15 % dari belerang total urin. Sedangkan pada urine orang normal setelah ditambah dengan barium klorida (BaCl2), urine menjadi keruh tetapi tidak ada endapan sulfat.
Percobaan keempat adalah uji gula (glukosa) dalam urine. Uji saringan gluksa dalam urine aadalah petanda sseorang individu itu mempunyai penyakit, misalnya diabetes melitus. Adanya glukosa dalam urine individu yang normal biasanya pada individu yang mempunyai ambang glukosa rendah (glukosurid). Uji glukosa dilakukan dengan menambahkan 3 ml reagent benedict pada dua tabung reaksi dan menambahkan 10 tetes pada setiap sampel urine (orang normal dan orang hamil) pada tabung reaksi, kemudian meletakkan pada penangas air mendidih. Pada urine orang normal, setelah pencampuran dengan reagen benedict dan dilakukan pemanasan, urine berwarna hijau bening dan tidak ada endapan. Tetapi pada urine wanita hamil berwarna coklat dan terdapat endapan. Hasil pengamatan pada sampel urine wanita hamil menujukkan adanya kandungan glukosa dalam urine. Pereaksi Benedict yang mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan tereduksi oleh gula yang menpunyai gugus aldehid atau keton bebas (misal oleh glukosa), yang dibuktikan dengan terbentuknya kuprooksida berwarna merah atau coklat. Uji glukosa ini sering tidak valid jika reagen yang digunakan telah kedaluawarsa atau terbuka terlalu lama di udara dan bercampur dengan air.
Percobaan terakhir dari analisis urine adalah uji albumin dalam urine. Albumin merupakan suatu protein yang memiliki ukuran molekulnya cukup besar. Urine yang mengandung Albumin menandakan bahwa filtrasi yang dilakukan oleh ginjal tidak sempurna. Indikator adanya Albumin dalam urine ditandai dengan terdapatnya cincin putih diantara Asam nitrit pekat dan Urine. Albumin merupakan salah satu protein utama dalam plasma manusia dan menyusun sekitar 60% dari total protein plasma. Kadar albumin normal dalam urine berkisar antara 0-0,04 gr/L/hari. Keberadaan albumin dalam urin dengan jumlah yang melebihi batas normal, dapat mengindikasikan terjadinya gangguan dalam proses metabolisme tubuh. Uji ini dilakukan dengan memanaskan terlebih dahulu sampel urine yang akan digunakan. Sebelum dipanaskan urine berwarna kuning bening dan setelah dipanaskan, warna urine tetap putih bening meskipun telah ditambahkan asam asetat. Hal ini menunjukkan bahwa dalam urine keduanya, baik pada orang normal maupun orang hamil tidak mengandung albumin. Ini berarti kinerja ginjal kedua orang tersebut masih berfungsi dengan baik dan bisa menfiltrat protein yang masuk ke dalam ginjal.

VI. Kesimpulan
1. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang
 kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
2. Kandungan urine bergantung keadaan kesehatan daan makanan sehari-hari yang dikonsumsi oleh masing-masing individu. Individu normal meempunyai pH antara 5 sampai 7.
3. Analisis urin secara fisik meliputi pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin dan pH serta suhu urin. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu.
4. Hasil uji Derajat keasaman (pH) pada sampel urine phatologis dan orang normal menunjukkan derajad normal karena pada manusia kadar pH normal berkisar antara 5 sampai 6.
5. Uji klorida dilakukan untuk mengetahui zat-zat abnormal yang terkandung dalam urine, indikatornya terdapat endapan putih, menunjukkan urin tersebut mengandung klorida Hasilnya sampel urine mengandung klorida, menunjukkan bahwa kinerja hati terganggu.
7. Urine yang mengandung Albumin menandakan bahwa filtrasi yang dilakukan oleh ginjal tidak sempurna. Indikator adanya Albumin dalam urine ditandai dengan terdapatnya cincin putih diantara Asam nitrit pekat dan Urine.


VII. Saran
            Dalam melakukan percobaan – percobaan urine yang harus diperhatikan adalah jenis urine yang digunakan sebagai sampel, waktu pengambilannya, dan jenis penyakitnya. Dalam melakukan analisis urine ini, dibutuhkan kehati – hatian agar didapatkan hasil yang maksmal. Selain itu, kecerobohan dalam menggunakan zat – zat kimia juga akan berakibat fatal bagi praktikan. Sehingga tidak ada kata yang lebih bijak lagi selain hati – hati.




















VIII.  Jawaban Pertanyaan
1.      PERTANYAAN
a.       Pertanyaan  ( uji keberadaan albumin dalam urine phatologis )
1.      Kekeruhan pada urine disebabkan apa saja ?
2.      Protein apa saja yang terdapat dalam urine ?
3.      Albumin dapat timbul dalam keadaan apa saja ?
b.      Pertanyaan  ( percobaan benzidin )
1.      Apa artinya haemoglobin (Hb) ?
c.       Pertanyaan  ( uji reaksi reduksi dengan pereaksi benedict )
1.      Jelaskan bagaimana pengendalian kadar glukosa darah .

2.      JAWABAN 
a)      Jawaban   ( uji keberadaan albumin dalam urine phatologis )
1.  Kekeruhan urine dapat disebabkan karena
·         fosfat & karbonat dalam jumlah besar. Cara testnya : urin + asam asetat encer ―›keruh hilang.
·         bakteri ―› sel2 yang rusak seperti sel epitel, & produksi leukosit akan meninglat.
·         sediment dari eritrosit, leukosit & sel epitel.
·         lemak & siklus (butir2 kecil dari lemak).
·         benda2 koloidal.
     2.   Protein yang terdapat dalam urine yaitu Albumin dan globulin.
3. Selama olah raga, stres atau diet yang tidak seimbang dengan daging dapat menyebabkan protein dalam jumlah yang signifikan muncul dalam urin seperti globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi.

b)      Jawaban  ( percobaan enzim )
1.       Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru ke jaringan tubuh dan karbon dioksida dari jaringan kembali ke paru-paru. Kehadiran hemoglobin bebas dalam urin adalah penemuan abnormal, yang dapat membuat urine terlihat gelap.

c)      Jawaban ( uji reaksi reduksi )
1.      Cara pengendalian glukosa darah yaitu dengan cara pemeriksaaan glukosa darah secara teratur dan menerapkan diet tinggi serat untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah normal dan mengurangi kegemukan untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit.




























Daftar Pustaka
Ali, I. 2008. http://iqbalali.com/2008/02/10/urinalisis-analisis-kemih/ (online: 13 Desember 2009).
Ganong, W. F, Fisiologi Kedokteran edisi 14, Penerbit buku kedokteran, EGC, alih bahasa oleh dr. Petrus Andrianto.
Hidayat, dkk. 2006. Mikrobiologi Industri.Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Lehninger, Albert L. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Pratiwi,D.A. 2004. Modul dasar-dasar biokimia. Jakarta : Bina Aksara.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia.
Sinosuke, N. 2009. http://bagiilmunohara,blogspot.com/2009/04/uji-urin.html. (online: 13 Desember 2009). Team Biokimia. 2009. Petunjuk Praktikum Biokimia. Jember: Jember University Press.
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/laporan-praktikum-urinalisa. (online: 13 Desember 2009).

SEMOGA BERMANFAAT
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar