LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

DISUSUN OLEH :
ARMANSYAH FARID
NIM : PO71971090847
JURUSAN GIZI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO
T.A 2010 - 2011
PRAKTIKUM I
UJI KUALITATIF PROTEIN
A. Pelaksanaan Praktikum
1. Tujuan Praktikum: Memperlihatkan bahwa makomolekul yang larut protein dapat dipisahkan dengan mengendapkannya dengan penambahan etanol absolute.
2. Waktu Praktikum : Minggu, 23 januari 2011
3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Poltekkes Gorontalo
B. Landasan Teori
Protein ialah biopolimer yang terdiri atas banyak asam amino yang berhubungan satu dengan yang lainnya lewat ikatan amida (peptida). Protein memainkan berbagai peran dalam sistem biologis. Beberapa protein merupakan komponen utama dari jaringan struktur (oto, kulit, kuku, rambut). Protein lain mengangkut molekul dari satu bagian ke bagian yang lainnya dalam makhluk hidup. Masih ada lagi yang bertindak sebagai katalis dalam berbagai reaksi biologis yang diperlukan untuk mempertahankan hidup (Hart, harold. at al, 2003).
Protein merupakan molekul besar dengan Mr sekitar 6000 sampai dengan 1.000.000. Protein yang terdapat dalam organisme sangat bervariasi dalam ukuran dan strukturnya. Struktur itu ditentukan oleh jenis, jumlah, dan urutan asam aminonya. Protein sendiri adalah polimer asam amino. Asam amino adalah senyawa yang mengandung gugus karboksilat (-COOH) dan amino ( - NH2) dengan rumus umum :

Asam amino jenis ini disebut α-asam amino, karena gugus amino(-NH2)-nya terikat pada atom pertama (α) gugus karboksil. R adalah atom atau gugus yang mengandung rantai alifatik, siklik, atau aromatik. Berdasarkan R-nya di alam terdapat 200 lebih jenis asam amino, tetapi di dalam protein hanya terdapat 20 macam (Syukri, 1999).
Serum merupakan bagian dari cairan tubuh yang bercampur dengan darah. Serum sendiri dapat diartiakan sebagai cairan tanda sel darah dan fator koagulasi atao fibrinogen. Serum merupakan juga sebuah plasma darah tanpa adanya fibrinogen. Serum ini terdari adri 4 jenis berdasarkan komponen yang terkandung didalamnya yaitu, serum albumin, serum globulin, serum lipoprotein dan serum wewenang. Masing-masing jenis serum memiliki fungsi yang berbeda meskipun dalam satu larutan plasma darah.
Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah salah satu obat rekreasi yang paling tua.
Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).
Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut organik lainnya, meliputi asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida, kloroform, dietil eter, etilena glikol, gliserol, nitrometana, piridina, dan toluena Ia juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan, seperti pentana dan heksana, dan juga larut dalam senyawa klorida alifatik seperti trikloroetana dan tetrakloroetilena.
Ikatan hidrogen menyebabkan etanol murni sangat higroskopis, sedemikiannya ia akan menyerap air dari udara. Sifat gugus hidroksil yang polar menyebabkannya dapat larut dalam banyak senyawa ion, utamanya natrium hidroksida, kalium hidroksida, magnesium klorida, kalsium klorida, amonium klorida, amonium bromida, dan natrium bromida. Natrium klorida dan kalium klorida sedikit larut dalam etanol. Oleh karena etanol juga memiliki rantai karbon nonpolar, ia juga larut dalam senyawa nonpolar, meliput kebanyakan minyak atsiri dan banyak perasa, pewarna, dan obat.
Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein. Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning.(Trevor,1995:76)
Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam tertentu, seperti misalnya, asam triklorasetat dan asam perklorat. Penambahan asam ini menyebabkan terbentuknya garam protein yang tidak larut. Zat pengendap lainnya adalah asam tungstat, fosfotungsat, dan metafosat. Protein dapat juga diendapkan dengan kation tertentu seperti Zn2+ dan Pb2+. Berbagai protein globular mempunyai daya kelarutan yang berbeda di dalam air. Variable yang mempengaruhi kelarutan ini adalah: pH, kekuatan ion, sifat dielektrik pelarut, dan temperatur. Pemisahan protein dari campuran dengan pengaturan pH didasarkan pada harga pH isoelektrik yang berbeda-beda untuk tiap macam protein. Pada umumnya molekul protein mempunyai daya kelarutan minimum pada pH isoelektriknya. Pada pH isoelektriknya beberapa protein akan mengendap dari larutan. Sehingga dengan cara pengaturan pH larutan, masing-masing protein dalam campuran dapat dipisahkan satu dari yang lainnya dengan teknik yang disebut pengendapan isoelektrik (Wirakusumah. 2008).
Protein, yang namanya berarti ‘pertama’ atau ‘utama’ merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein adalah instrument yang mengekspresikan infor- masi genetik. Seperti juga terdapat ribuan gen di dalam inti sel, masing-masing mencirikan satu sifat nyata dari organis- me, di dalam sel terdapat ribuan protein yang berbeda, masing-masing membawa fungsi spesifik yang ditentukan oleh gen yang sesuai. Protein, karenanya, bukan hanya merupakan makromolekul yang melimpah jumlahnya, tetapi juga amat bervariasi fungsinya. Fungsi suatu protein ditentukan oleh 1) jumlah asam amino pembentuknya, 2) jenis asam amino, dan 3) urutan asam amino di dalam rantai polipeptidanya. Penggolongan protein berdasarkan fungsi biologisnya antara lain (Anonim, 2010):
| Golongan | Contoh |
| Enzim | Ribonuklease, Tripsin |
| Protein transport | Hemoglobin, Albumin serum- lipoprotein 3. |
| Protein nutrient dan penyimpan | Gliadin (pada gandum) Ovalbumin (telur), Casein (susu) Feritin |
| Protein konraktil atau motil | Aktin, Miosin, Tubulin, Dynein |
| Protein struktural | Keratin, Fibroin, Kolagen, Elastin Proteoglikan |
| Protein pertahanan in | Antibodi, Fibrinogen, TrombToksin botulinum, Toksin difteri Bisa ular, Risin |
| Protein pengatur | Insulin, Hormon pertumbuhan Kortikotropin, Reseptor membran |
C. Alat dan Bahan
1. Alat-alat:
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Rak tabung reaksi
- Gelas kimia
2. Bahan-bahan:
- Larutan albumin telur ( Putih telur )
- Serum ( berasal dari sapi atau manusia )
- NaOH 10%
- CuSO4 0,5%
- Aquades
- Etanol absolute ( C2H5OH )
D. Prosedur Kerja
· Siapkan 4 tabung reaksi yang bersih dan kering.
· Tabung 1 : isi dengan 2ml serum
· Tabung 2 : isi dengan 2ml putih telur
· Masukan etanol absolute pada kedua tabung, masing – masing 2 ml
· Pindahkan filtrate dari serum pada tabung 3, dan filtrate putih telur pada tabung 4.
Ø Uji Warna Protein
Reaksi Biuret (untuk ikatan peptida) :
- Filtrat/endapan masukan dalam tabung reaksi
- 1-2 ml larutan CuSO4 0,5 % perlahan – lahan
- Tambahkan 2 ml NaOH
- Amati warna yang terbentuk.
- Bila belum terbentuk warna ungu, tambahkan CuSO4 sampai 10 tetes.
E. Hasil Pengamatan
Uji Kualitatif Protein
1. Pengendapan dengan etanol absolut
| Langkah Kerja | Pengamatan (Perubahan Warna) |
| Tabung I Larutan serum 2 ml + 2ml etanol absolute Terjadi endapan | Terbentuk endapan putih |
| Tabung II Larutan putih telur 2ml + 2ml etanol absolut | Terbentuk endapan putih |
Uji Warna Protein
| Langkah kerja | Pengamatan |
| a) Reaksi Biuret Tambahkan 1-2 ml larutan CuSO4 perlahan, pada ke 4 tabung. Kemudian tambahkan 2 ml NaOH pada masing – masing tabung. | Terbentuk endapan berwarna ungu lembayung. |
F. ANALISIS DATA
1. Uji Warna Protein
a. Reaksi biuret
Albumin + NaOH ( basa)
G. PEMBAHASAN
Protein ialah biopolimer yang terdiri atas banyak asam amino yang berhubungan satu dengan yang lainnya lewat ikatan amida (peptida). Protein memainkan berbagai peran dalam sistem biologis. Beberapa protein merupakan komponen utama dari jaringan struktur (oto, kulit, kuku, rambut).
Pada praktikum ini dilakukan uji kualitatif protein yang bertujuan untuk memisahkan protein dengan makromolekul yang larut bersama protein dengan penambahan etanol absolute dan mengidentifikasi protein secara kimia dengan mengenal sifat pengendapan dan perubahan warna yang terjadi bila ditambahkan dengan senyawa kimia tertentu.
Larutan protein yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan albumin. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapatterkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur.
Praktikum pertama yaitu pengendapan protein dengan etanol absolute. Pada praktikum ini kami menggunakan sampel albumin telur dan serum darah manusia. Dari hasil pengamatan kami dapatkan dimana etanol yang bersifat sangat higroskropis akan menarik molekul air yang berinteraksi dengan molekul protein. Akibatnya molekul – molekul protein beragregasi satu sama lain sehingga membentuk endapan. Dengan terjadinya pengendapan atau disebut juga koagulasi, protein mengalami perubahan konformasi serta posisinya sehingga aktivitasnya berkurang atau kemampuannya untuk menunjang aktivitas organ tubuh tertentu akan hilang.
Selanjutnya, endapan yang terbentuk kami pisahkan dari filtratnya ( makromolekulnya). Hal ini kami lakukan untuk persiapan perlakuan berikutnya yaitu dengan uji perubahan warna dengan pereaksi biuret. Pereaksi ini akan menguji adanya ikatan peptide dalam larutan sampel yang kami sudah pisahkan tadi.
perlakuan selanjutnya yaitu uji warna protein dengan menggunakan pereaksi biuret. Pada reaksi biuret diperoleh hasil reaksi berupa warna ungu pada bagian atas dan bagian bawah kental. Hal ini terjadi karena ion Cu2+ dari pereaksi biuret yang berasal dari penambahan CuSO4 dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks bewarna ungu seperti yang dihasilkan. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Ini berarti bahwa protein yang terkandung dalam putih telur adalah tidak kurang dari dua ikatan peptida. Jadi ikatan peptida hanya terbentuk apabila ada dua atau lebih asam amino esensial yang bereaksi. Pada percobaan untuk uji biuret, terjadi kesalahan dimana pada saat kami memindahkan filtrat, ada sedikit endapan yang ikut tertarik. Sehingga larutan filtrat juga memberi reaksi yang positif terhadap uji biuret.
H. KESIMPULAN
Dari hasil dan analisis di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
· Protein dapat terdenaturasi oleh sebab antara lain : perubahan pH, suhu dan penambahan ion atau logam berat tertentu.
· Protein dapat dipisahkan dari makromolekulnya serta didentifikasi oleh reaksi pengendapan oleh etanol absolut. karena protein mempunyai gugus –NH2, -NH, -OH , -CO yang mengikat air. Etanol yang bersifat higroskopis akan menarik air tersebut sehingga protein kehilangan air, mempunyai kelarutan terkecil dan mudah mengendap.
· Test Biuret yang merupakan tes umum untuk protein
· protein yang terkandung dalam putih telur adalah tidak kurang dari dua ikatan peptida.
· Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur.
· Pengendapan albumin Dasar reaksi : denaturasi protein adalah rusaknya sifat fisik dan fisiologik protein. Dapat disebabkan karena pemanasan dan penambahan asam kuat. Denaturasi hanya merusak ikatan sekunder, tersier, dan kuartener.
· Fungsi penambahan reagen NaOH : mencegah endapan Cu(OH)2, memecah ikatan protein sehingga terbentuk urea, sbg katalisator CuSO4 donor Cu2+. Dasar reaksi : reaksi positif ditandai dengan terjadinya warna ungu karena adanya kompleks yang terjadi antara ikatan peptide dengan O dari air.
I. SARAN
Dalam melakukan percobaan agar lebih berhati – hati, terutama pada saat memindahkan filtrat dari endapan, karena akan berakibat pada hasil yang bertentangan dengan teori sebenarnya.
J. JAWABAN PERTANYAAN
A. Pertanyaan
1. Apakah uji ini positif untuk asam amino ?
2. Asam amino apa saja yang menyusun protein ?
3. Bagaimana mengelompokan asam amino ?
4. Apa yang dimaksud dengan asam amino esensial dan asam amino nonesensial ? asam amino apa saja yang termasuk dalam kedua golongan ini.
5. Gambarkan ikatan peptida yang terbentuk pada rantai tripeptida.
6. Tuliskan reaksi pengendapan yang terjadi.
7. Sebutkan secara garis besdar protein utama dari fraksi Cohn I sampai V.
8. Apakah fungsi tiap – tiap protein tersebut ?
B. Jawaban
1. Tidak, karena uji biuret hanya uji umum untuk protein. Sedangkan untuk uji spesifik untuk asam aminonya, ada pengujian lain seperti reaksi Hopkins – cole dimana reaksi ini memberikan hasil positif dengan adanya asam amino triptofan, reaksi xantoprotein untuk asam amino dengan inti benzen(tirosin, fenilalanin, triptofan), serta Reaksi Millon untuk memperlihatkan bahwa protein mengandung asam amino dengan inti fenol (tirosin).
2. Alanine Arginine, Asparagine, Aspartic Acid, Carnitine, Citrulline , Cysteine Cystine , Glutamic Acid, Glutamine, Glycine , Histidine, Hydroxyproline, Isoleucine, Leucine , Lysine, Methionine, Ornithine, Phenylalanine Proline, dan Serine.
3. Kita dapat menggolongkan asam amino dengan menggunakan sifat fisik gugus rantai cabang pada pH 7, karena mendekati pH fisiologik.
· Gugus rantai cabang asam amino hidrofobik, pada umumnya membentuk bagian dalam dari molekul protein globular apabila pelarut polar, air, dijauhkan.
| Alanin Valin Leusin | Triptofan Metionin Isoleusin | Prolin (suatu asam imino) Fenilalanin |
· Gugus rantai cabang asam amino polar yang tak bermuatan, dapat membentuk ikatan hidrogen. Rantai cabang polar, kecuali glisin, dapat juga disertakan dalam ikatan ion logam dengan melalui interaksi pasangan elektron bebas dari atom-atom O, N, atau S dari rantai cabang ion logamnya.
| Serin Glisin Threonin | Sistein Asparagin Glutamin | Tirosin |
· Gugus rantai cabang asam amino yang bermuatan positif atau negatif penuh, dapat mengadakan interaksi ionik dengan gugus bermuatan berlawanan, atau dengan gugus polar.
Rantai cabang bermuatan negatif
Asam aspartat
Asam glutamat
Rantai cabang bermuatan positif
Arginin
Lisin
Histidin (terbanyak bermuatan positif pada pH 6)
4. Asam amino esensial adalah asam amino yang sangat diperlukan tubuh tapi tidak dapat diproduksi oleh tubuh, sehingga perlu didatangkan dari makanan. Sedangkan asam amino nonesensial adalah asam amino yang dapat disintesis di dalam tubuh.
Berikut ini adalah asam amino esensial
- Arginin
- Histidin
- Isoleusin
- Leusin
- Lisin
- Metionin
- Fenilalanin
- Treonin
- Triptofan
- Valin
Asam amino non esensial adalah :
| - Alanine | - Glutamine |
| - Aspartate | - Glycine |
| - Asparagine | - Proline |
| - Cysteine | - Serine |
| - Glutamate | - Tyrosine |
O R2 H
5. 







H2N H C C N H
R1 H R3
6. 




NH2 C H + C2H5OH NH2 CH + C2H5 (endapan)
R R
Albumin + NaOH ( basa)
7. Imunoglobulin G ( Ig G) disebut juga rantai – γ (gamma)
Imunoglobulin A ( Ig A) disebut juga rantai –α (alpha).
Imunoglobulin M ( Ig M) disebut juga rantai –µ (mu)
Imunoglobulin D ( Ig D) disebut juga rantai –δ (delta)
Imunoglobulin E ( Ig E) disebut juga rantai –ε (epsilon)
8. Ig G merupakan antibodi dominan pada respon sekunder dan menyusun pertahanan yang penting melawan bakteti dan virus.
( Ig A) melindungi membran mukosa dari serangan bakteri dan virus.
IgM berfungsi sebagai reseptor permukaan sel B untuk tempat antigen melekat dan disekresikan dalam tahap-tahap awal respons sel plasma.
IgD terutama ditemukan pada permukaan sel B, yang kemungkinan berfungsi sebagai suatu reseptor antigen yang diperlukan untuk memulai diferensiasi sel-sel B menjadi plasma dan sel B memori.
Imunoglobulin E dihasilkan pada saat respon alergi seperti asma dan biduran. Peranan IgE belum terlalu jelas. Di dalam serum, konsentrasinya sangat rendah, tetapi kadarnya akan naik jika terkena infeksi parasit tertentu, terutama yang disebabkan oleh cacing.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Struktur Asam Amino dan Protein. Didownload dari :
Hart, harold. At al, 2003. Kimia Organik : Suatu Kuliah Singkat. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 3. Bandung : Penerbit itb.
Wirakusumah, muhammad. 2008. Biokimia : Protein, Enzim, dan Asam Nukleat. Bandung :
Penerbit itb.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi.Bandung : Penerbit ITB
PRAKTIKUM II
E N Z I M
II. Tujuan Percobaan:
Untuk melihat bagaimana aktifitas ptyalin dengan adanya Cl-)
III. Dasar Teori
Enzim Adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistim biologic. Hampir semua reaksi kimia dalam sistim biologis dikatalis oleh enzim. Sisnteis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian nesar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya.
Enzim biasa juga disebut sebagai suatu protein yang mempunyai struktur tiga dimensi yang mampu mengkatalisis reaksi-reaksi biologis. Untuk mengaktifkan kerja enzim dibutuhkan adanya kofaktor, seperti ion logam, koenzim atau spesies yang lain. Enzim menaikan laju reaksi karena enzim dapat menurunkan energi aktifasi substrat yang terlibat dalam reaksi. Enzim bekerja optimal dalam kondisi yang optimal, diatas kondisi optimal aktifitas katalis enzim akan berkurang, demikian pua dibawah kondisi optimal aktivitas katalitiknya akan menjadi kurang optimal.
Semua enzim pada hakekatnya adalah protein. Beberapa diantaranya mempunyai struktur agak sederhana, sedangkan sebagian besar lainnya memiliki struktur rumit. Oleh karena enzim adalah protein, maka interaksi antara enzim dengan molekul lain, sama halnya dengan protein ditentukan oleh asam amino-asam amino yang ada dalam permukaan yang berhubungan dengan medium. Sifat-sifat permukaan enzim dipengaruhi oleh larutan disekitarnya. Gugus-gugus fungional enzim menggambarkan sifat asam-basa dan kelarutannya.
Suhu, pH, konsentrasi substrat, serta konsentrasi enzim sangat mempengaruhi aktifitas katalitik enzim. Masing-masing enzim memiliki kondisi optimal. Aktivitas katalitik enzim dipengaruhi oleh adanya inhibitor. Ada tiga jenis inhibitor yaitu:
Inhibitor bersaing
Indibitor tidak bersaing, dan
Inhibitor bukan bersaing
Satu unit aktivitas enzim didefinisikan sebagai jumlah enzim yang dapat menghasilkan enzim sebanyak mol setiap detik pada kondisi percobaan. Selanjutnya satu unit aktivitas spesifik enzim didefinisikan sebagai jumlah enzim yang dapat menghasilkan satu mol produk setiap detik per gram protein enzim.
Dalam mulut manusia terdapat enzim amylase yang memiliki tugas-tugas yang penting dalam proses reksi enzimatik untuk kepentingan metabolisme tubuh.
Berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis, enzim dapat dibagi menjadi enam golongan uatama, yaitu:
- Oksidoreduktase: kelompok enzim yang mengerjakan reaksi oksidasi dan reduksi
- Transferase: kelompok enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan suatu gugus dari suatu senyawa kepada senyawa lain.
- Hidrolase: Kelompok emzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis
- Liase: Kelompok enzim yang mengkatalisis reaksi adisi atau pemecahan ikatan rangkap
- Isomerase: kelompok enzim yang mengkatalisis perubahan konformasi molekul (isomerisasi)
- Ligase(Sintetase): kelompok enzim yang mengkatalisis pembentukkan ikatan kovalen
Secara keseluruhan, enzim mempunyai dua bagian utama yaitu: bagian protein (apoenzim) dan bagian ion protein (koenzim). Apoenzim merupakan suatu polipeptida yang mempunyai struktur kwarterner atau tersier dengan urutan atau komposi asam amino tertentu dan rantai polipeptida tersebut distabilkan oleh ikatan kimia yang terjadi yang dari gugus sampaing pada asam aminonya. Ikatan kimia yang terjadi merupakan ikatan sulfide, ikatan hydrogen, dan ikatan Van der Wals.
IV. Alat dan bahan
- Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
· Gelas Ukur
· Gelas Kimia
· Tabung Reaksi
· Pipet Tetes
· Erlemeyer
· Corong Buchner
· Kertas Saring
- Bahan
Bahan-bahan yang digunakan:
- larutan amilum 1%
- larutan iodium encer
- aquadest
- air liur
V. Prosedur Kerja
VI. Hasil Pengamatan
| No Tabung | Perlakuan | Hasil | Ket |
| 1 | 1 mL NaCl 1% + 3mL larutan amilum + 1 tetes larutan iodium + 1mL larutan liur | Setelah 12 menit tabung menjadi tidak berwarna | |
| 2 | 1 mL HCl 1N + 3mL larutan amilum + 1 tetes larutan iodium + 1mL larutan liur | Warna Tetap | |
| 3 | 1 mL Aquadest + 3mL larutan amilum + 1 tetes larutan iodium + 1mL larutan liur | Setelah 4 menit tabung menjadi tidak berwarna |
VII. PEMBAHASAN
Menurut definisi enzim disebut sebagai suatu protein yang mempunyai struktur tiga dimensi yang mampu mengkatalisis reaksi-reaksi biologis. Enzim juga dedefinisikan sebagai sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistim biologis. Hampir semua reaksi kimia dalam sistim biologis dikatalis oleh enzim. Sisnteis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian nesar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya.
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa enzim merupakan biokatalis yang sangat evisien dan mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan katalis biasa.
Keuntungan reaksi enzimatis dibandingkan dengan reaksi katalisis selektif bahkan sampai stereoselektif.hal ini dimungkinkan karena konformasi pusat aktif enzim spesifik untuk substrat tertentu. Reaksi enzimatis hampir tudak menghasilkan produk samping dibandingkan teaksi kimia biasa. Daya katalitik enzim sangat kuat pada kondisi reaksi lunak sekalipun. Reaksi enzim berlangsung pada suhu dan pH optimum. Adanya sisi evektor pada molekul enzim mengakibatkan reaksi enzim dapat dikendalikan.
Pada percobaan ini, sampel yang digunakan adalah saliva (air liur) dengan memvariasikan pelarut atau pereaksi. Adapun pereaksi atau pelarut yang di pakai adalah NaCl 1%, HCl 1 N dan aquadest. Tujuan utama dari percobaan ini yakni untuk mengetahui bagaimana aktifitas Ptialin dengan adanya HCl.
Mula-mula sampel air liur dianbil dan diencerkan, namun sebelum diencerkan sailva atau air liur ditempatkan dalam beaker gelas lalu diencerkan dengan aquadest selanjutnya disaring untuk nemastikan bahwa tidak ada materi lain yang terdapat pada sampel.
Sampel yang telah tersedia kemudian diukur masing-masing 1 mL dan ditempatkan dalam 3 tabung reaksi yang telah diberi label. Selanjutnya kedalam ketiga tabung reaksi tadi ditambahkan masing-masing 3 mL larutan amylum dan satu tetes larutan iodum. Langkah selajutnya adalah menambahkan masing-masing 1 mL NaCl 1% pada tabung pertama, 1 mL HCl 1N pada tabung ke dua dan 1 mL aquadest lalu diadakan pengamatan selama beberapa menit.
a. Hasil Tabung Reaksi Pertama
Sebelumnya kami mengumpulkan air ludah atau liur terlebih dahulu. Penambahan air liur pada pati di awal sebelum proses ini berfungsi sebagai enzim yang akan mengkatalisis proses hidrolisa senyawa pati, karena pada air liur terdapat enzim amylase yang akan mengubah amilum menjadi maltosa, dan pati merupakan amilum. Amylase pada air ludah ini juga sering disebut dengan enzim ptialin. Proses perubahan amilum menjadi maltosa merupakan hidrolisis. Bila amilum ditambahkan air liur (amilase) maka molekul- molekulnya akan terhidrolisis manjadi maltosa dengan BM 360 dan glukosa.Amilosa merupakan suatu polimer linear yang terdiri dari unit-unit D-glukosa dalam ikatan 1,4 glukosida. Berbeda dengan amilopektin, amilosa merupakan suatu polisakarida yang bercabang dan terdiri dari unit-unit D-glukosa dalam ikatan.
Secara umum enzim -amilase terdapat pada tanaman, jaringan mamalia, dan mikroba (Winarno, 1986)..sumber enzim tersebut memiliki karakteristik dan lingkungan kerja yang berbeda sehingga berbeda pula kemampuannya dalam menghidrolisis pati.
Dari percobaan yang dilakukan, mula-mula kedalam tabung reaksi pertama yang berisi 1 mL larutan liur dimasukkan 3 mL larutan Amylum dan ditambahkan dengan 1 tetes larutan iodium. Pada tahap ini larutan dalam tabung reaksi menjadi warna merah maron karena pengaruh reaksi warna pada iodiun. Kedalam larutan ini kemudian ditambahkan dengan 1 mL NaCl 1% selanjutnya dilakukan pengamatan selama beberapa menit.
Seharusnya hanya Berselang 5 menit warna larutan pada tabung menghilang menjadi larutan yang tidak berwarna. Hal ini terjadi karena oleh Ptyalin (alpha amilase) yang ada di dalam larutan liur, amylum akan dihidrolisa menjadi Amylodextrin, Erithro dan Achroodextrin kemudian maltosa sehingga warna merah maron pada tabung menghilang. Akan tetapi pada percobaan yang kami lakukan, malah lebih lama menghilang, hal ini mungkin disebabkan kesalahan pada saat memberikan larutan iodium, Sehingga warnanya lama menghilang.
Selain itu, NaCl menyebabkan suasana yang baik untuk bekerjanya Ptyalin karena adanya ion Cl- tetapi pH netral sehingga memungkinkan hilangnya warna terlihat lebih cepat.
b. Hasil Tabung Kedua
Sama halnya dengan tabung pertama, pada tabung ke dua mula-mula kedalam tabung reaksi yang berisi 1 mL larutan liur dimasukkan 3 mL larutan Amylum dan ditambahkan dengan 1 tetes larutan iodium. Pada tahap ini larutan dalam tabung reaksi menjadi warna merah maron karena pengaruh reaksi warna pada iodiun. Kedalam larutan ini kemudian ditambahkan dengan 1 mL HCl 1N selanjutnya dilakukan pengamatan selama beberapa menit.
Hasil percobaan seharusnya menunjukkan bahwa warna larutan dalam tabung reaksi tidak menunjukkan perubahan warna (tetap merah maron). Hal ini disebabkan karena Achrodextrin dan maltosa dengan iodium tidak memberi warna. Selain itu, HCl dapat mempegaruhi tingkat keasaman yang menyebabkan larutan terlalu asam dan menyebabkan Ptyalin tidak aktif sehingga terlihat pada percobaan waena larutan pada tabung reaksi tidak hilang. Akan tetapi pada percobaan yang kami lakukan warnanya hampir hilang, tapi menyisahkan endapan. Hal ini juga disebabkan kelalaian kami pada saat memberikan larutan iodium yang sangat sedikit.
c. Hasil Tabung Ketiga
Perlakuan untuk tabung ketiga sama halnya dengan perlakuan pada tabung pertama dan tabung kedua, hanya saja NaCl pada tabung pertama dan HCl pada tabung kedua diganti dengan Aquadest, mula-mula kedalam tabung reaksi pertama yang berisi 1 mL larutan liur dimasukkan 3 mL larutan Amylum dan ditambahkan dengan 1 tetes larutan iodium. Pada tahap ini larutan dalam tabung reaksi menjadi warna merah maron karena pengaruh reaksi warna pada iodiun. Kedalam larutan ini kemudian ditambahkan dengan 1 mL Aquadest selanjutnya dilakukan pengamatan selama beberapa menit.
Seharusnya hasilnya menunjukkan bahwa warna pada tabung berubah menjadi tidak berwarna pada waktu kurang lebih 15 menit. Hal ini menandakan bahwa walaupun di dalam aquadest tidak mengandung Cl- akan tetapi di dalam larutan liur itu sendiri terdapat Cl-. Dalam reaksi enzimatik, pH juga menetukan volume Cl-. Oleh karena pH aquadest netral, maka Cl- yang didapatkan juga akan semakin sedikit yang kemudian menyebabkan waktu untuk terjadinya reaksi (perubahan warna) terlihat lebih lama.
Akan tetapi percobaan kami malah lebih cepat hilang yaitu hanya dengan waktu 4 menit. Kami belum tau persis apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut karen kami merasa melakukannya sesuai prosedur kerja. Akan tetapi, kesalahan ini akan menjadi suatu tolak ukur baru untuk kami labih mendalami reaksi – reaksi enzimatik yang terjadi.
VIII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan serta pembahasan diatas maka dapat ditaeik beberapa kesimpulan diantaranya:
- Pada tabung pertama Oleh Ptyalin (alpha amilase) yang ada di dalam larutan liur, amylum akan dihidrolisa menjadi Amylodextrin, Erithro dan Achroodextrin kemudian maltosa sehingga warna merah maron pada tabung menghilang.
- NaCl menyebabkan suasana yang baik untuk bekerjanya Ptyalin karena adanya ion Cl- tetapi pH netral sehingga memungkinkan hilangnya warna terlihat lebih cepat.
- Pada tabung kedua menunjukkan bahwa warna larutan dalam tabung reaksi tidak menunjukkan perubahan warna. Hal ini disebabkan karena Achrodextrin dan maltosa dengan iodium tidak memberi warna.
- HCl dapat mempegaruhi tingkat keasaman yang menyebabkan larutan terlalu asam dan menyebabkan Ptyalin tidak aktif sehingga terlihat pada percobaan warna larutan pada tabung reaksi tidak hilang.
- Pada tabung ke tiga walaupun di dalam aquadest tidak mengandung Cl- akan tetapi di dalam larutan liur itu sendiri terdapat Cl-. Dalam reaksi enzimatik, pH juga menetukan volume Cl-. Oleh karean pH aquadest netral, maka Cl- yang didapatkan juga akan semakin sedikit yang kemudian menyebabkan waktu untuk terjadinya reaksi (perubahan warna) terlihat lebih lama.
IX. Saran
Berdasarkan pengalaman pada praktikum, maka praktikan menyarankan agar supaya reaksi enzimatik ini dapat dikembangkan dalam bentuk penelitian ilmiah sehingga dampak dari reaksi enzimatik itu sendiri dapat tersosialisasikan. Kami juga menyarankan agar hati – hati dalam melakukan percobaan, karena kesalahan kecil saja akan berakibat pada hasil yang tidak sesuai dengan teori.
X. Jawaban pertanyaan
· Pertanyaan
1. Terangkan bagaimana mekanisme kerja enzim
2. Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi kerja enzim.
3. Apa yang dimaksud dengan KOFAKTOR. Sebutkan bagiannya dan berikan contohnya.
4. Sebutkan enzim – enzim apa saja yang berperan pada sistem pencernaan.
· Jawaban
1. Mekanisme kerja enzim :
- Menurunkan energi aktivasi dengan menciptakan suatu lingkungan yang mana keadaan transisi terstabilisasi (contohnya mengubah bentuk substrat menjadi konformasi keadaan transisi ketika ia terikat dengan enzim.)
- Menurunkan energi keadaan transisi tanpa mengubah bentuk substrat dengan menciptakan lingkungan yang memiliki distribusi muatan yang berlawanan dengan keadaan transisi.
- Menyediakan lintasan reaksi alternatif. Contohnya bereaksi dengan substrat sementara waktu untuk membentuk kompleks Enzim-Substrat antara.
- Menurunkan perubahan entropi reaksi dengan menggiring substrat bersama pada orientasi yang tepat untuk bereaksi. Menariknya, efek entropi ini melibatkan destabilisasi keadaan dasar, dan kontribusinya terhadap katalis relatif kecil.
2. Faktor – faktor yang memperngaruhi kerja enzim :
1. Suhu
Enzim tidak dapat bekerja secara optimal apabila suhu lingkungan terlalu rendah atau terlalu tinggi. Jika suhu lingkungan mencapai 0° C atau lebih rendah lagi, enzim tidak aktif. Jika suhu lingkungan mencapai 40° C atau lebih, enzim akan mengalami denaturasi (rusak). Suhu optimal enzim bagi masing-masing organisme berbeda-beda. Untuk hewan berdarah dingin, suhu optimal enzim adalah 25° C, sementara suhu optimal hewan berdarah panas, termasuk manusia, adalah 37° C.
2. pH (Tingkat Keasaman)
Setiap enzim mempunyai pH optimal masing-masing, sesuai dengan "tempat kerja"-nya. Misalnya enzim pepsin, karena bekerja di lambung yang bersuasana asam, memiliki pH optimal 2. Contoh lain, enzim ptialin, karena bekerja di mulut yang bersuasana basa, memiliki pH optimal 7,5-8.
3. Aktivator dan Inhibitor
Aktivator adalah zat yang dapat mengaktifkan dan menggiatkan kerja enzim. Contohnya ion klorida, yang dapat mengaktifkan enzim amilase.
Inhibitor adalah zat yang dapat menghambat kerja enzim. Berdasarkan cara kerjanya, inhibitor terbagi dua, inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif adalah inhibitor yang bersaing aktif dengan substrat untuk mendapatkan situs aktif enzim, contohnya sianida bersaing dengan oksigen dalam pengikatan Hb. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif adalah inhibitor yang melekat pada sisi lain selain situs aktif pada enzim, yang lama kelamaan dapat mengubah sisi aktif enzim.
Inhibitor adalah zat yang dapat menghambat kerja enzim. Berdasarkan cara kerjanya, inhibitor terbagi dua, inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif adalah inhibitor yang bersaing aktif dengan substrat untuk mendapatkan situs aktif enzim, contohnya sianida bersaing dengan oksigen dalam pengikatan Hb. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif adalah inhibitor yang melekat pada sisi lain selain situs aktif pada enzim, yang lama kelamaan dapat mengubah sisi aktif enzim.
4. Konsentrasi enzim dan substrat
- Semakin tinggi konsentrasi enzim akan semakin mempercepat terjadinya reaksi. Dan konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi.
- Jika sudah mencapai titik jenuhnya, maka konsentrasi substrat berbanding terbalik dengan kecepatan reaksi.
- Jika sudah mencapai titik jenuhnya, maka konsentrasi substrat berbanding terbalik dengan kecepatan reaksi.
3. Kofaktor adalah molekul non-protein yang berfungsi untuk berikatan dengan enzim dan menjadi aktif. Kofaktor dapat berupa zat anorganik (contohnya ion logam) ataupun zat organik (contohnya flavin dan heme). Kofaktor dapat berupa gugus prostetik yang mengikat dengan kuat, ataupun koenzim, yang akan melepaskan diri dari tapak aktif enzim semasa reaksi.
4. Enzim – enzim dalam sistem pencernaan adalah :
Amilase Tripsin laktase
Maltase Sakrase Peptidase
Protease Maltase
Lipase ptyalin
Pepsin Isomaltase
Renin Ribonuklease
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Togu Gultom 2003. Petunjuk Praktikum Biokimia, F. MIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Mongomeri, Rex. 1993. Biokimia Jilid I. Universitas Gajah Mada; Jakarta
Purwo Arbianto, 1996. Biokimia Konsep-Konsep Dasar. DEPDIKBUD
Thenawijaya Maggy, 1990. Dasar-Dasar Biokimia Jilid Satu. Erlangga; Jakarta
Yazit, Estien 2006, Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Analis. Yogjakarta; Andi
Terima kasih sudah berkunjung di blog saya,,,,,
SEMOGA LAPORAN INI BERMANFAAT
"Armansyah Farid"
SEMOGA LAPORAN INI BERMANFAAT
"Armansyah Farid"
